Kamis, 28 September 2023

Hujun

EFRINALDI
AYAHKU PAHLAWANKU


BAGIAN I
BENIH-BENIH MIMPI

Geliat kehidupan mulai ketika ayam berkokok. Ibuku menyalakan kompor minyak tanah. Ibu merebus air. Ibu membangunkan aku yang masih berusia lima tahun. Ibu memandikan adikku yang berusia satu tahun. 

Kakakku, laki- laki baru datang dari rumah nenek sebab kakak tidur di rumah nenek semenjak kakakku mulai diajarkan nenek mengaji di rumah nenek. Aku, kakak dan ayahku pergi ke baruah, di pemandian mata air di lurah Baruah Gadiang. Kakakku mandi sendiri. Aku dimandikan ayahku.  

Ayah mengambil air di kolam khusus berlokasi di atas kolam pemandian. Kolam itu adalah kolam yang diperuntukkan hanya untuk mengambil air yang dibawa pulang untuk keperluan memasak. 

Aku, kakak dan ayahku pulang ke rumah. Ibu telah menyediakan kopi untuk ayahku di meja makan. Ayah minum kopi. Kakakku menyemir sepatu ayah. Aku main- main saja.

"Nasi goreng telah masak. Ayo makan!" seru ibuku. 

Kami semua makan nasi goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Nasi goreng hangat itu langsung habis untuk sarapan kami semua. 

Ayahku dan ibuku berkemas hendak pergi bekerja sebagai guru di SMP Dangung-dangung. Kakakku berkemas hendak sekolah di SD No. 1 Mungka dekat rumah kami. Tinggalllah aku dan adikku di rumah diasuh uwakku.

***

Ayahku pulang dari mengajar jam satu siang. Beliau mengganti bajunya dengan pakaian rumah. Beliau shalat zuhur dan kemudian makan siang. 

Ayahku mengelus kepalaku. Tiba-tiba beliau menyadari bahwa rambutku telah panjang. Beliau pergi ke dalam kamar mengambil alat cukur. 

"Sinilah, Nak! Ayah akan memangkas rambutmu!"

Ayah membuka bajuku dan mulai memangkas rambutku. Sebentar saja rambutku telah rapi. Ayah memang pandai memangkas rambut. Beliau mengikuti keahlian kakekku dalam memangkas rambut. 

Kakek dulu menjadi tukang pangkas rambut di Mekah. Beliau pergi ke Mekah untuk menuntut ilmu agama selama tujuh tahun.. Untuk membiayai kehidupannya di sana beliau menjadi tukang pangkas rambut. 

Bakat memangkas rambut kemudian juga diwarisi pada kami anak-anaknya. Kami bersaudara saling memangkas rambut, sehingga menghemat biaya pangkas rambut. Kakakku bahkan kemudian menjadi tukang pangkas rambut bagi anak-anak sekitar rumah kami dengan bayaran relatif murah. 

Keahlian memangkas rambut juga diajarkan ayahku pada murid-murid SMP Dangung-dangung. Waktu itu SMP Dangung-dangung mengajarkan pada murid-murid berbagai keterampilan seperti memangkas rambut, bertukang, menjahit, montir sepeda motor dan lain-lain selain pelajaran standard. Ketermpilan yang mengagumkan adalah murid bisa membongkar sepeda motor dan memasangnya lagi dan sepeda motor bisa jalan lagi dengan baik. Kala itu SMP Dangung-dangung menjuluki dirinya sekolah pembangunan. Julukan itu membuat SMP Dangung-dangung bergaung namanya se Asia Tenggara dan sering dikunjungi orang untuk studi banding.

Sehabis memangkas rambutku, ayah berkata, 

"Ayah tidak berharap anak-anak ayah menjadi tukang pangkas rambut nantinya, melainkan semuanya memiliki keterampilan lebih hebat lagi. Kalau hidup susah di perantauan, dari pada minta minta-minta, lebih baik bekerja, walau pun menjadi tukang pangkas rambut. Tetapi ayah berdoa kalian semuanya nanti menjadi sarjana."
 
***

Setelah memotong rambutku, ayah pergi tidur siang. Sejam kemudian ayah bangun. Ayah memanggilku,

"Epi…poi ka poghak wak le."

Ayah mengajakku ke kebun. 

"Jadih, Pa!" jawabku mengiyakan.

Aku dan ayah pergi ke kebun di belakang rumah. Ayah membawa cangkul, tembilang, parang, sabit dan kantong plastik memakai gerobak. Aku mengikuti beliau.

Ayah menggali lubang dengan diameter sekitar setengah meter sedalam sekitar 60 cm memakai cangkul dan tembilang. Setelah selesai lubangnya, ayahku memintaku mengambil abu dari unggun di dalam kebun.

"Pi, poi tayiak abu di unggun agak sa kantong plastik ko a!" ujar ayahku sambil menyodorkan kantong plastik hitam.

Aku mengambil abu, sementara ayah mengambil anak pohon pisang dari suatu rumpun pohon pisang.

Ayah membawa sebuah anak pisang ke dekat lubang yang telah dibuat. Dipotongnya akar anak pisang yang menonjol dengan parang.

"Pi, mari kita taburkan abu ke pangkal pisang!" ujar ayah sambil memulai menaburkan abu ke pangkal anak pisang. Aku mengikuti cara ayah sehingga seluruh akar anak pisang telah tertaburi abu. 

"Sekarang kita tanam anak pohon pisang ini." ujar ayah

Ayah memasukkan pangkal anak pisang ke lubang. Ayah menyuruhku memegang pohon pisang agar tidak tumbang. Kemudian, ayah mulai menimbun lubang dengan tanah memakai cangkul. 

Selesai sudah acara menanam pisang. Kemudian ayah menyalakan unggun di tengah kebun. Setelah api menyala, ayah menebas semak di kebun memakai sabit. Ayah menyuruhku mengumpulkan tanaman hasil tebasan ke unggun. 

Ayah kemudian duduk di atas tunggul kayu tidak jauh dari api unggun. Beliau menyalakan rokoknya. Terlihat ayah sangat menikmati rokoknya.

Aku kemudian sibuk menangkap belalang. Belalang yang tertangkap aku ambil kakinya dan aku panggang di bara api. Setelah terpanggang aku makan kaki belalang itu. Ayahku seperti tidak memperhatikan aku. Tetapi aku yakin ayahku pasti memperhatikan aku bermain api, waspada kalau api unggun membahayakan aku. 

***

Sejak pagi mobil angkutan banyak ke kampungku. Mengangkut orang-orang ke kota Payakumbuh. Hari itu ada acara pacuan kuda di Kubu Gadang Payakumbuh. Mobil angkutan dari kabupaten lain juga beroperasi ke Kabupaten 50 Kota. Klakson mobil terdengar sepanjang jalan kampung. Ada juga klakson berupa melodi indah terdengar. 

Aku, kakakku dan ayah berangkat ke Payakumbuh. Kami menuju ujung jalan Sesampai di ujung jalan, bertemu jalan raya Mungka-Payakumbuh. Banyak orang di setiap simpang jalan. Berpakaian bagus tidak seperti biasanya. Mereka sama-sama mau menonton pacuan kuda. 

Oto Bahagia datang dari arah Barat. Ayahku menyetop bus. Ayahku tidak bertanya ke mana tujuan bus. Pastilah semua mobil angkutan menuju Payakumbuh hari ini. Sehari-hari Oto Bahgia bertrayek Mudiak Payokumbuah-Padang, namun hari itu tidak ada orang menuju Padang, semua akan tumplek ke Payakumbuh, bahkan orang dari Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar ke Payakumbuh saja hari itu.

Sampailah di lapangan pacuan kuda Kubu Gadang. Kami antri membeli karcis masuk arena pacuan kuda. Beruntung kami dapat duduk di balkon. Pemandangan menjadi lapang untuk menyaksikan pacuan kuda.

Acara dimulai dibuka oleh Bupati Kabupaten 50 Kota. Serombongan orang berkuda kemudian mengarak piala yang akan diperebutkan hari itu oleh kuda-kuda bersama joki-joki andalan. Riuh sorak penonton.

Pacuan dimulai. Lima kuda berlomba di babak pertama ini. Di putaran pertama, kuda berpacu hampir berbarengan. Di putaran kedua, mulai ada perbedaan jarak antara satu kuda dan kuda lainnya. Kuda berwarna merah semut terlihat di depan diikuti kuda putih. Pekik penonton menggema di Kubu Gadang. Di putaran ketiga, kuda putih menyalib kuda merah semut. Kembali pecah pekik penonton. Di putaran akhir, kuda merah semut menang, mencapai garis finish paling dulu. 

Usai babak pertama. Pedagang asongan sibuk menawarkan dagangannya pada penonton. Aku melirik es cendol yang yang dibawa pedagang dekat kami. Ayahku menawarkan cendol pada aku dan kakakku. 

"Nio cindui kalian?"

"Iyo, Pa!"

Ayah membeli tiga kantong plastik es cendol, untukku, untuk kakakku dan untuk ayah.

Babak demi babak berlalu. Akhirnya tibalah pacuan terakhir perebutan juara diikuti juara-juara di babak penyisihan. Kuda merah semut menjadi juara. Piala diarak berkeliling arena pacuan kuda.

Usai sudah pacuan kuda. Ayah mengajak kami makan di restoran. Terhidang sejumlah masakan lezat di meja kami. Ada gajeboh, dendeng, rendang, ayam goreng, kuah ikan mas dan sayur daun singkong rebus. Aku makan dendeng. Sementara kakakku makan gajeboh. Ayahku makan ikan mas kuah. Usai makan petugas restoran mencatat makanan yang kami makan di atas kertas. Terlihat matanya memperhatikan makanan yang ada di meja dan mencatat semua yang kami makan. Petugas rumah makan memberikan secarik kertas itu pada ayahku. Ayahku memeriksanya. Sebentar saja ayah memeriksa dan terlihat tidak ada kekeliruan. Kami meninggalkan restoran setelah ayah membayar makan kami itu.

Kami menuju pasar di belakang toko Hizra. Ayah menawarkan apa makanan yang akan dibawa pulang. Aku tidak meminta apa-apa, juga kakakku. Ayah akhirnya membeli dua kantong botiah dan sekantong gelamai. Kami pun pulang menumpangi lagi Oto Bahagia. 

***

Ayah dan ibuku menjadi guru di SMP Dangung-dangung. Ayahku mengajar ilmu ukur sementara ibuku menjadi guru aljabar. Ayahku pandai menulis skenario drama, sementara ibuku pandai menjadi sutradara dan pelatih drama. 

Suatu hari ada acara sandiwara pentas di SMP Dangung-dangung. Ayah dan ibuku mengajakku dan saudaraku menonton acara itu. Sandiwara berjudul Rambun Pamenan. Ibuku menjadi sutradara dan pelatihnya. 

Yang kuingat pemeran utama prianya bernama Hafidz Wahyu. Orangnya ganteng, gagah namun menurutku dia berwajah lembut. Pemeran wanita utamanya aku lupa namanya. Ya, pastilah bintang di antara bintang di SMP Dangung-dangung masa itu.

Pertunjukan awal-awal adalah sederetan tarian Minang yang indah. Kemudian sederet pidato. Barulah mulai acara yang dinanti. Drama dimulai dengan pengenalan tokoh-tokoh. Tokoh muncul satu per satu dengan ekspresi dan ucapan singkat naumn kuat.

Aku tak terlalu ingat ceritanya dengan lengkap. Namun, seperti kisah zaman itu, sangat kental dengan kisah hitam putih. Seputar penindasan suatu pihak yang berkuasa kemudian berbalik pihak tertindas menuntut balas. Ada dipertontonkan adegan silat yang sangat bagus. Aku suka dialognya yang banyak berpantun-pantun. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Minangkabau. 

Yang mengesankan juga di acara itu adalah aku bertemu dengan teman sebaya sesama anak guru. Aku ingat bertemu anak Bu Wahidarni Padang Kandi, anak Bu Syamsimar Ampang Godang, Anak Pak Suharmo Dangung-dangung, Anak Pak Yusrizal Ketinggian, anak Pak M. Yan Guguak, anak Bu Nurianis Padang Jopang, anak Pak Jamal Tayeh, anak Pak Ali Satar dan banyak lagi. Sebagian besar anak-anak guru ini kemudian menjadi temanku di SMA Limbonang kemudian.
 
Yang menarik lagi adalah penonton diberi beberapa potong kue yang dibungkus dalam kantong plastik. Masa itu terjadi di tahun 70-an akhir. Ketika kehidupan berjalan perlahan namun berirama penuh harmoni.

***

HUT Republik Indonesia selalu meriah di Kecamatan Guguak di masa tahun 1970-an. Suatu hari aku diajak ayahku menonton pawai di Dangung-dangung. Kendaraan ayah waktu itu adalah sepeda. Ayah memboncengku di sadel. Ayah mengikat kakiku di rangka sepeda di bawah sadel agar kakiku tidak sampai terjepit jejari roda sepeda sewaktu kami berkendara.

Ada pawai orang-orang berpakaian berbagai profesi, seperti petani, polisi, tentara, dokter, insinyur, ulama dan lain-lain. Ini membuka wawasanku tentang adanya profesi yang bermacam-macam. Ada juga pawai sepeda hias. Aku suka menyaksikan drum band. Aku melihat kekompakan tim dan keharmonisan dalam komando stick mayor agar gerakan dan musik sinkron. 

Yang paling menarik adalah pawai alegoris. Di barisan terdepan ada orang seperti tokoh Soekarno. Orangnya gagah, tampan, berjas dengan dasi, berpeci dan berkaca mata hitam. Begitulah sosok Soekarno yang hidup di masyarakat. Soekarno dikelilingi oleh sejumlah istrinya yang cantik-cantik, seperti Bu Inggit Ganarsih dengan pakaian kebaya yang anggun, Bu Fatmawati yang keibuan, dan lain-lain sampai Ratna Sari Dewi dengan pakaian ala wanita Jepang. Di belakangnya diikuti dengan zaman orde baru. Pawai menampilkan bermacam-macam aspek pembangunan seperti kendaraan tempur dan pertanian.  

Barisan berikutnya adalah orang berpakain berbagai negara. Ini memberikan kesadaran bahwa ada banyak bangsa di dunia ini.

Pawai alegoris berkandungan pendidikan juga hiburan. Aku suka!

*** 

Malam hari ayahku minta dipijit kakinya. Aku memijitnya dengan enggan karena aku juga lelah. Ayahku bertanya padaku, 

"Setelah besar nanti kamu mau jadi apa?"

Aku berpikir sejenak. Aku telah melihat ayah menjadi guru, berkebun, memangkas rambut, melihat joki, dan terakhir banyak profesi diperlihatkan di pawai alegoris.

"Bermimplah setinggi langit, Nak!" kata ayahku tiba-tiba

"Aku mau jadi insinyur!" jawabku dengan semangat.

"Bagus!" kata ayahku.

Ayah kemudian tertidur. Aku menghentikan pijitan dan kemudian pergi ke kamarku. Pikiranku kembali ke pawai alegoris tadi siang. Deretan pawai yang panjang kembali tergambar dalam benakku. Namun, ya… sosok Soekarno lah yang paling membekas dalam benakku. 

Aku mau seperti Ir. Soekarno! tekadku dalam hati.

Aku pun memeluk bantal guling dan membenamkan kepalaku ke bantal yang empuk. Tidurku dihiasi mimpi kanak-kanak yang indah.

(bersambung)

Selasa, 19 September 2023

Efinalsi

E f r i n a l d i
K e h i d u p a n d a l a m S e m b u r a t K i s a h 
(18)

SARAN UNTUK PENSIUNAN
Ada saran untuk pensiunan : 1. Menjadi sukarelawan, 2. Menekuni hobby yang terbengkalai. 3. Mempelajari hal baru. 4. Memiliki aktifitas rutin (spt. mengantar cucu, pergi bersama anak, kerja bakti setiap akhir pekan), 5. Berolah raga rutin 6. Bersosialisai dengan mengikuti beragai kegiatan sehingga bertemu banyak orang.7.Jangan abaikan keuangan, 8. Bersyukur, 9. Lebih dekat dengan pasangan. 10. Tentukan tujuan hidup Anda, misal : beternak, membimbing anak, usaha properti, toko kelontong, 11. Pola makan sehat, 12. Pola pikir sehat,13. Gaya hidup sehat (tidak foya-foya), boleh belanja asal sesuai dengan kondisi keuangan,14. Menjaga relasi dengan teman lama, 15. Memperbaiki hubungan sesama manusia (keluarga, kerabat, dll),16. Berpikir positif, jangan buang energi untuk mengutuk diri sendiri dan orang lain, 17. Berwisata berkala, 18. Bersilaturrahim, 19. Bersedekah, 20. Mendekatkan diri pada Allah swt.

MOTIF DAN MOTIVASI
Manusia dilengkapi jasmani, akal, kalbu dan nafsu. Keempat itu bisa diaktifkan atau dibiarkan begitu saja.
Motif spiritual berasal dari kalbu memiliki daya dorong handal dan bertahan lama. Motif lebih dasar membuat orang bergerak, seperti tak bergerak tak bisa makan. Tak berusaha tak mendapatkan cinta kasih. Tak menabung tak mendapatkan rasa aman di masa depan. Tidak berprestasi tak mendapat penghargaan dari lingkungan. Tak menunjukkan karya menjadi hidup tak lengkap. Ada yang orang serta merta bergerak, termotivasi. Ada yang perlu pompaan semangat orang sekelilingnya. Motif spritual adalah handal dan bertahan lama. Dan itu digali dari ajaran agama. Motif duniawi bisa membuat orang bersemangat. Makanya, kalangan manusia modern yang menipis spiritualnya secara mekanistik melakukan cara menyemangati diri, seperti melihat pameran barang mewah. Nah…. itu saja pesan buat yang kehilangan semangat.

KETIKA MASA TUA TIBA 
Makanlah secukupnya
Berbagilah ilmu yang bermanfaat yang bisa diterapkan
Carilah komunitas yang membawa kebahagiaan dan mengajak ke syurga
Biarkan yang tak bisa diubah lagi

MEMANFAATKAN KEHIDUPAN MASA PENSIUN 
Dua tahun pensiun barulah benar-benar mantap bagiku menjalani masa hidup tersisa pasca bekerja. Aku telah memulai persiapan menjelang masa pensiun selama tiga tahun sebelum pensiun yaitu menyiapkan rumah masa tua, menunaikan ibadah haji, selesainya pendidikan anak-anak, bermenantu dan memiliki tabungan masa tua yang memadai. Begitu masa pensiun tiba, kegamangan datang juga. Ini menyangkut berubahnya aktifitas sehari-hari, berkurang atau hilangnya kontak dengan banyak orang yang selama ini selalu berhubungan sewaktu bekerja, menurunnya pendapatan rutin dan kecemasan merosotnya peran di kehidupan/ masyarakat.
Aku memastikan diri hidup di kampung halaman dengan aktifitas harian berkebun dan memelihara ikan. Walau sederhana, Ini mengatasi masalah merosotnya aktifitas, juga membantu masalah menurunnya pendapatan rutin selama pensiun dengan adanya pemasukan dari aktifitas itu walau tidak sebesar sewaktu bekerja formal.
Berkurangnya kontak dengan banyak orang dengan berhenti bekerja digantikan dengan menemukan komunitas orang setempat tinggal dan komunitas teman semasa kecil, teman sekolah, baik dengan bertemu langsung ataupun secara virtual dan mempertahankan sedapat mungkin tetap berkomunikasi dengan orang-orang lamaku dengan komunikasi di WAG, telepon maupun kunjungan silaturrahim seperti event kematian, sakit, pesta atau reunian.
Aku juga mengisi waktuku dengan menulis di blog dan WAG untuk sharing pengalaman yang mengurangi kegamangan merosotnya peran di kehidupan ini.
Aku menghibur diriku dengan wisata kuliner dan melakukan perjalanan melihat tempat wisata maupun tempat bersejarah dalam hidupku seperti berbagai tempat di Sumatera Barat dan Riau serta Kota Bandung.
Ada hal yang selama ini terasa masih kurang akan kukejar sedapat mungkin. Apa itu? Masih rahasiaku! Hehehe….

BISNIS PRODUK KOMODITAS DENGAN KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN BISNIS PRODUK INOVATIF
Ikut-ikutan bisnis produk komoditas yang sudah ada di dunia bisnis masih bisa untung seperti keuntungan bisnis orang lain, kalau pengelolaannya setara, baik biaya finansial, manajemen dan teknologi. Keuntungan bisa lebih tinggi bila dikembangkan keunggulan baru baik dalam pembiayaan, manajemen maupun teknologi. Bisnis produk inovatif lebih menjanjikan. Tetapi, memang butuh inovasi yang kadang bisa sederhana saja dan tak berbiaya tinggi, namun sering butuh penelitian dan pengembangan yang rumit dan mahal. Tetapi bila inovasi berhasil, akan dipetik buah yang manis setelahnya.


BETERNAK IKAN
Bisnis lele adikku mandeg dengan naiknya harga pelet buatan industri dan harga jual lele merosot di sekitar Payakumbuh.  Ini dicoba disiasati dengan menggunakan pelet buatan sendiri.
Teknologi pembuatan pelet sendiri bukan hal baru di masyarakat, telah banyak dibuat dan dipakai di peternakan ikan patin di Kab. Kampar, Riau dan berhasil.
Pola kerja pengembangan produk aku pakai dalam pengembangan peternakan lele ini dengan pakan pelet buatan sendiri ini. Mulai mengumpulkan informasi, menyusun "formula", menguji coba di kolam uji coba dan mengevaluasi. Bila baik ditingkatkan skalanya. Bila uji coba baik diulangi sampai dinilai valid. Bila skala pilot berhasil dilanjutkan rencana skala komersial. Pola pengembangan bisnis ini  juga memakai jalur analisa pasar sebelumnya, mempelajari supply chain (sumber bahan baku pelet, tempat membeli bibit, pelemparan hasil panen), sistem operasi yang tepat, pengelolaan SDM (keterampilan dan sistem pengupahan, jumlah pelaksana dan pengelola, perkruitan) dan keuangan yang efektif dan efisien. Kemudian men-set up bisnis dengan menyiapkan dana, SDM, membangun fasilitas berupa kolam produksi dan fasilitas pendukung, membuat SOP walau sederhana sekali pun dan kemudian mengoperasikan.
Dalam pengembangan fasilitas yang berbiaya diperhitungkan risiko gagal dengan membuat alternatif pemanfaatan fasilitas yang terlanjur dibangun untuk manfaat lain. Dalam hal peternakan lele intensif akan dialihkan ke peternakan ikan emas dengan pakan tradisional bila rencana awal gagal. Ini  mengadop strategi pembangunan sebuah rumah sakit swasta di Bandung yang tata ruangnya dirancang  sesuai untuk rumah sakit tetapi bisa diubah menjadi hotel bila umah sakit tidak berhasil. Kegagalan rumah sakit swasta bisa terjadi dengan sedikitnya pasien sehingga tidak bisa menyokong biaya operasional.
Dalam hal rencana peternakan lele dengan pakan buatan sendiri gagal akan dialihkan ke peternakan ikan tradisonal, dan itu tidaklah merubah fasilitas kolam secara berarti kecuali gudang pakan akan tidak terpakai. Kerugian lainnya mungkin mesin pelet tidak terpakai, tetapi kerugian bisa ditekan dengan menjual kembali mesin pelet.
Peternakan ikan dengan pakan/ cara tradisional baik kolam air mata air atau air tadah hujan, tetap ada untungnya tetapi produksinya tidak intensif namun juga tidak padat modal. Mengingat itu, aku berani membangun beberapa kolam sebelum uji coba peternakan lele dengan pelet buatan sendiri selesai. Toh tetap akan bisa dipakai untuk peternakan ikan lainnya.  – Efrinaldi (28 September 2022)

Kamis, 31 Maret 2022

Tgwig

 Rasulullah SAW memanjatkan doa, "Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?

Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu." 

Mendengar doa kekasih-Nya, Allah SWT mengutus Jibril AS untuk menyampaikan bahwa Allah menerima doanya. Malaikat penjaga gunung pun bersiap untuk melakukan apa yang akan diperintahkan Nabi. Jikalau Rasulullah berkehendak, malaikat itu akan benturkan kedua gunung di samping kota itu sehingga siapa pun yang tinggal di antara keduanya akan mati terimpit. Hanya, kelembutan hati Nabi tampak. Dia pun menjawab, ''Saya hanya berharap kepada Allah SWT, andaikan pada saat ini, mereka tidak menerima Islam, mudah-mudahan kelak mereka akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah SWT."

 

Jumat, 25 Februari 2022

Bahsa manusia

 02.26 12:06

Sering kita dengar bahasa makian manusia terhadap manusia, anjingpun dibawa2, " Dasar anj..... lu"  . Tapi bahasa makian anjing terhadap anjing manusia kah yg dibawa bawa?  "Dasar Manusia Lu" (ckwk sopan bingit ya) , mohon unchekclist sinkronisasi ya,  agar status fokus. 


Senin, 16 Agustus 2021

Puisi anak negeri

Taufik Ismail

Negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang berbunga haram
Jika negeri ini telah mampu melunasi hutang itu
Silahkan teriak merdeka !
Jika belum mampu, lebih baik diam dan berfikir
Malu kita

Banyak anak negeri yang hanya jadi babu di negeri orang
Mereka, seringkali disiksa dan dianiaya
Jika negeri ini belum mampu memulangkan mereka
Memberi pekerjaan layak dan mensejahterakan
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita

Negeri katulistiwa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa
Namun dikelola oleh orang lain
Rakyat hampir tak menikmatinya
Jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita

Kemiskinan dan pengangguran semakin meluas
Terasa berat untuk bisa hidup layak
Bahkan harga-harga terus merangkak naik
Ditambah pajak yang kian mencekik
Jika masih meluas kemiskinan
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita

Anak negeri tengah terjerembab watak amoral
Narkoba meraja lela
Seks bebas liar menyasar siapa saja
Pornoaksi dan pornografi makin menggila
Jika anak bangsa masih amoral
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita

Demokrasi korporasi mencengkran negeri ini
Keuangan yang maha kuasa
Korupsi menjadi budaya
Kolusi makin menganga
Kerugian uang rakyat tak terkira
Jika perilaku ini masih mewarnai bangsa
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita

Luas negeri ini dipenuhi potensi sumber daya
Namun garam masih impor
Namun singkong masih impor
Jika negeri ini belum mandiri
Memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita

Luas negara ini jutaan hektar
Namun lebih dari setengah dikuasai asing
Hingga rakyat tak lagi punya lahan luas
Berdesak-desakan di tanah yang sempit
Jika tanah negara belum mampu direbut kembali
Jangan teriak merdeka !!
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita

Malu kita
Tak berdaya
Tak Kuasa 
Lumpuh di ketiak penjajah...Malu Kita...Malu Kita...
(Siapkan generasi yang ber iman, ber ilmu, ber amal)

Kamis, 15 Juli 2021

Cerita warung kopi


Kebon raya bogor

SEKEDAR MENGISI WAKTU

"Ghi ba'a bisuak tempo kan?" tanyo Jisidi ka Yakma'ah sudah makan malam. "Iyo. Kalender merah" jawek Idar, anak eah, sambie melingkuk-an siso tulang sudah makan daghi pinggan ka wadah makanan kucieng. Makan malam di palantea, basamo-samo, ditoghangi lampu cimporong.

"Dikoghingi lah tobek bawah longgea pek Baghuah Baghangan. Lah godang-godang kan-tawi jo kan-taweh mpak dek den belok lalu!"

"Jadih mlah. Dibao ka kan-komih. Lai pangkugonok gak nyereah!" manjowob YakMa'ah, sambie mancaghi-caghi kampie tompek sighieh jo pinang, saroto sodah, bawah lamaghi makan, ampieng lutuk suok.

"Yo ancak pulo reah. Sambie maisi kotu tempo nak-ughang keah. Dibao nasi jo samba, gulai gak sangenek. " tambah Misur, laki Idar. Mandongea rencana apak, ibu jo uwo ajak itu, lah kombang ghabu paja nan batigo; Buyuang Godang, Buyuang Tongah jo Supiek Erma. Tabayang, bisuak pagi manangkok ikan, banyak bona, dalam tobek godang, .....

Matoaghi mulai tinggih. Jisidi jo kaluarga eah lah baighieng-ighieng madok ilie. ka tobek baghuah-baghangan. Indak lamo, lah tibo pek pamatang, sasudah manughun tobieng, malinteh jalan tunggua kaghambie. Langsuang dimasuak-i tobek bolah pamatang bawah, dicaghi pambuluah tunggang, diegang pokok- eah. Byuuurrr!!! mamancea aie ka sawah bolah bawah. Pas satontang pangka pambuluah tunggang, lah baputea-putea aie, cucuk-kolieng!

Ndak lamo, lah susuk aie. Lah nampak pungguang ikan. manggalitea-galitea ateh lunau. Ikan tawi, ikan omeh, ikan paweh bahkan ikan pantau. banyak!

Jisidi jo YakMa'ah mangumpua-an ikan sado nan dapek tatangkok. Idar jo Misur bitu pulo. Buyuang Godang Jo Buyuang tongah, lai soto tapi kadang sambie main-main. Salieng mamanggak-an ikan nan dapek. "Ha, godang eah lai!" "Tengok niak. Panjang!"

Tagieh mamogangan ikua ikan, sudah tu ba tengok-an ka Supiek nan togak ateh pamatang. Supiek lun bulieh masuak tobek lai. Takuk kok takubua kaki paja ,dalam lunau, nambah kojo ajo!

Buyuang Tongah, kan sangajo malotak-an ikan nan dapek pek ampieng kaki Supiek. Lah mancangkuang pulo supiek ma-awai-awai ikan. Tambah lamo, tambah datang somuk api. A lah tapokiek Supiek, jaghi kaki eah digigik somuk sighah.

"Masuak pulo lah den dih Bu!" Supiek maghegek.

"Jan lai! Dalam. Tabonam kau biko!"

"Pek topi inyak ajo. Lai dangkek. Nyokau ikan pantau..." pintak Supiek. Dek ibunyo indak manjawek, nyo lah ngalucuh ka dalam. sambie mamogangan sayak. Managkok ikan pantau, ciek....duo......tigo! Sonang bona ati Supiek.

Weh, tu ikan paweh tu ha! Ateh lunau! Supiek bajalan agak ka tongah. Jo lambek-lambek, di cokau-eah ikan paweh cako. Snap! Dapek!! Tapi lincie! Paweh manggaletek laghi! Ikua ikan reah maompeh-ompeh ka lunau. dan, pcrrk....oman muko Supiek, ponuah dek titiek-titiek kalabu, lunau tobek!

Copek Supiek manggesek jo longan eah. tapi malang, lunau pek pipih, makin diapuh, makin marato ken-kaniak! Bahkan bintiak aluh kosiek lunau, masuak ka mato....

"Ngeaaakkkk!!!" managih kasudahannyo Supiek. Mato eah podieh. Lah takojuk Misur jo Idar. Buyuang Godang jo Buyuang Tongah malengong pulo ka adiek eah. Ba'a jak eah?

"Mato kalimponan lunauuuuuu,..uuu...uuu" manangih Supiek. Idar copek mambasuah tangan. Di dukuang paja ka pamatang. Di lap mato jo muko nan balunau. Diombuh. Wuuuh!!! Sakali. Ombuh baliek. Wuuuuhh.... Duo kali. "Olah ondo?"

Supiek mangijok-ngijok-an mato.

"Olaaah..." nyinyo, sambie mambuduk.

"Kan cako den kecek-an lai, tapi tanggege!"

Buyuang Tongah mamandangi ajo , adiek eah ditolong ibu eah. Pek ateh pamatang. Eh, tengok eten! Arah ka tobieng ilie longgea, ado pulasan babuah! Sighau!! Lobek!! Ghondah-ghondah!!

Buyuang Tongah langsung kaluea daghi tobek. Naiek ka pamatang. Basuah tangan stek. Ntu ilang, arah ka bawah batang pulasan lobek! Sssssttttt.

Tuk lami

Animasi


Ado Tuk Lami?" tanyanya sambal jemari kirinya memainkan kunci mobil dan tangan kanan masuk ke kantong celana. Ia begitu gagah. Bahkan tampan seperti bintang filem. Tak lagi bujang kurus yang dulu sering kena cemooh dalam kampung sebelum pergi merantau. Rambutnya menjuntai di kening, dan bagian sudut matanya agak gelap. Jika Rafi Ahmad matanya sembab mungkin karena kurang tidur shooting terus, dia ini, Burin Tobieng, entah kenapa,....

Kualihkan pandang ke mobil mengkilapnya. Veloz metalik baru. Kuberpindah lagi ke roman mukanya. Bibirku akan bergerak hendak menyampaikan tentang Tuk Lami, tapi ia sudah menyambung tanyanya,"Tuk Lami, lai dirumah?"

Tuk lami agaak


Ia berjalan ke arahku. Kemejanya bergaris-garis panjang tangan. Celananya berbahan jean. Aku akan menjawab lagi, bah wa Tuk Lami sudaah tiada, ketika hidungku diserang bau parfum yang indah. Yang tak pernah tercium di pekan Sabtu atau pekan Kamis. Atau bahkan di pasar Payakumbuh. Bagai melati bercampur mawar. Lembut tapi menyungkup ke syaraf otak paling dalam. Terkesima.

"He iko Nafi kan, paja nan dulu mencongkong makan limaumanis depan surau Pelita?" ujarnya mendekat ke pintu teras. "Hak-syiiiimmm!!!!" lelaki tampan memegang kunci mobil itu bersin sambil mengarahkan wajahnya ke samping. Lalu segra mengeluarkan sapu tangan dari kantong kanan, dan melap hidungnya. Ingus jernih bergelintin di atas kumis tipisnya. Entah, aku tak tau pasti, yang dipegangnya itu sapu tangan atau handuk kecil, sebab terlihat rada tebal, dan warnanya pink seperti hellokitty. Eh iya, aku, belum menjawab satupun tanyanya, 

Begitu dekat, ia mengulurkan tangan. Bersalaman. Ternyata tangan orang kota itu lembut, dingin, dan tak kasar. Beda dengan jemariku yang terbiasa memegang cangkul, parang dan arit serta terbiasa memegang batang pisang, batang padi dan sabut kelapa.

"Saya ingin bertemu Atuk. Saya mau bercerita panjang dengan beliau..." katanya, seperti sangat bersahabat.

"Atuk sedang pergi jauh," jawabku. BUrin itu tersentak. Bolehjadi ia memang belum tau, sebab kata orang, rantaunya jauh di pulau Dewata. Malah ada yang bilang, dia merantau cino, artinya hilang dan tak pulang-pulang. Tapi kenapa pula dia hendak bertemu dan bercerita dengan Atuk? Bukankah Atuk bukan orang penting, semacam penghulu, atau perangkat desa atau apalah-apalah? Atuk hanya guru mengaji bagi anak-anak sekitar kampung di surau, yang lantai suraunya dipenuhi onggokan padi di sudut ruang. Artinya selain guru mengaji, beliau adalah petani tulen. Tubuh beliau hitam kecil, tapi membajak sawah dengan bantuan sapi ternak, adalah aktifitas biasa. Dan maaf, bukankah dulu ketika Uda Burin ini remaja, ikut mengaji di surau, ia sering tak datang, minggat dan pernah pula ketauan mencuri ayam yang dipelihara Atuk? Buah salak Atuk di pinggir sawah, bukankah dia juga yang sering nyolong

Yang juga teringat tentang Burin adalah ketika ia terpeleset melompat got pembatas halaman surau dengan kebun di bagian barat. Ia tidak menyangka bahwa jika tangannya meraba telur ayam yang sedang dierami induknya, nun di dalam sangkak bambu berjerami, ia akan segera digerayangi sejenis serangga kecil yang menggigit gatal. Dan ia juga tak mengira bahwa induk ayam yang mengeram akan mematuk dan 'berteriak' keras jika ada makhluk asing yang mengganggu. Burin sudah menggenggam dua telur, tapi ia ingin tiga dan empat,...lalu tangannya terasa pedih oleh hama dan patukan induk ayam yang heboh tiba-tiba. Burin segera membawa dua telur saja di genggaman dan lari. Lintang-pukang. Melompat got arah ke kebun bawah pohon bambu. Kakinya terpeleset dan telur tercampak. Tangannya menggapai. Dagunya tersangkut. Tapi ia tak hendak memekik minta tolong. Takut ketauan ia 'menyelamatkan' telur ayam yang tengah dierami. Tuk Lami, yang ayamnya diusik, hanya memandang wajahnya dengan lurus. Memegang bahunya. Mengusap kepalanya. Tanpa aura marah. Tanpa sinar mata benci. Lalu Burin tersungkur jatuh ke pangkuan Tuk Lami, minta maaf.....

Wahai teman, itu tentu bukan satu-satunya kejadian tentang Burin yang kuingat. Peristiwa lain adalah ketika shalat magrib di surau berjamaah, Tuk Lami memimpin jadi imam. Suara beliau khas. Lafaz alfatihah dan ayat-ayatnya mantap tebal. Yang pernah menjadi makmum, tentu tau. Bagi Burin lafaz dan tajwid tak penting. Bagi Burin yang penting adalah berteriak dari saf belakang ketika orang - orang serentak menyebut 'Aaamiin.." di ujung alfatehah. Burin malah spontan menjawab, "Amin ka poken Sotuuuu...".... Boleh jadi yang dimaksud Burin adalah Amin Simpang, yang biasa bersepeda ke pekan keramaian membawa ayam untuk diperdagangkan.... Namun aksinya itu membuat beberapa anak lain, terpingkal ketawa, tapi segera ditahan karena ini sedang shalat. Aduh, Burin!

Untungnya mulut Burin tak langsung di pukul Tuk Lami seusai shalat. Ia malah dipanggil setelah mengaji selesai sehabis Isya. Dan ia hanya beroleh nasehat, bukan jentikan jemari di telinga, atau pukulan rotan di kaki...

"Masuklah Uda dahulu. Kata orang Uda merantau jauh. Kapan Uda pulang? Sudah 'menjadi orang" Uda tentu kini?" saya mempersilakan dia masuk. Melebarkan buka daun pintu. Dan menggeser kursi tamu yang terbuat dari rotan lusuh kuning.

"Tapi Tuk Lami lai sadieng di rumah kan? Atau..." dia mengekspresikan roman muka ragu dan kawatir.

"Iyo. Beliau sudah dahulu, meninggalkan kami. Allahummghfirlahu warhamhu..."

"Oh. Ha kan betul firasatku..." ujarnya terhenti. Tapi mungkin karena rindu dengan Tuk Lami, atau ingin mengenang surau tempat dulu ia 'berkiprah' semasa kecil, Burin akhirnya masuk dan menempatkan badan besarnya di kursi. Bunyi rotan ditekan puluhan kilogram, berdenyit meliuk. Dan ia kembali berucap,...

"Lah lamo den marantau. Lah jauah jalan ditempuh. Tapi kenangan ke surau ini, masih tersisa. Bahkan terkadang menggeliat keras,..."

Saya belum menanggapi dengan kata-kata. Namun perhatian saya seriuskan pada mimik dan gestur bola matanya. Merasa didengarkan, ia kembali menyambung.

""Beban hidup sekarang makin berat. Anak-anak banyak kebutuhan. Ibunya sudah pergi. Eh, entah ibunya yang pergi, entah saya yang menghindar. Setelahnya, den lah kawin ssekali lagi,...tapi tak lama. Dia meninggal ketika melahirkan anak. Seterusnya, saya membesarkan bayi dengan centang parenang. Menikah lagi, tapi tak pula lama umurnya. Berpisah. Kawin, pisah, kawin-pisah, bahkan akhirnya ada yang seumur jaguang saja lamanya......"

Dia berhenti. Tapi saya tak hendak mengalihkan tatapan. Tetap serius mendengarkan. Dengan mimik yang empati.

"Kini sudah tak jelas lagi, apakah saya ini statusnya bekeluarga atau tidak. Saya hibur badan buruk ini dengan bernyanyi. Di kafe. Di kondangan. Dimana saja. Juga sering menjadi MC di acara-acara. Lalu terlupalah saya dengan semua pelajaran Atuk. Tak ada lagi sembahyang. Apalagi mengaji. Ah, saya ini sudah hitam legam!" lanjutnya. Saya tetap memandangi wajahnya. Oh ...



Mungkin karena saya belum menanggapi, Burin beralih fikiran ke Tuk Lami. "Baa koba Atuk sebelum meninggal? Sakik?" tanyanya.

"Iya." saya mengangguk. "Kondisi penuaan. Demam. Kehilangan tenaga. Mulai tidak mau bicara. Ditidurkan telentang di ruang tidur keluarga. Uda Burin kan ingat, Beliau biasanya jika beraktifitas membaca, menulis, merekam pengajian di kaset taperecorder, di bilik Beliau. Bilik itu tak sembarang orang yang boleh masuk. Di dalamnya Beliau tidur beralaskan kulit kambing disamak berlapis kasur. Di hari meninggal itu beliau telentang, dikelilingi bapak dan etek. Kemudian Beliau pergi dengan tenang. Bapak menutupkan matanya yang setengah terbuka. Lalu sejenak Bapak berdoa dengan air mata mengalir. Begitulah, Beliau dimandikan, dikafani dan dishalatkan serta ditanam di kebun depan rumah, belakang lumbung padi…"

"Jadi indak ado sakik namanya tu ya?"

"Indak. Terakhir itu beliau masih minum teh yang dibuat pekat. Kata mantri kesehatan, bisa membantu jantung dan aliran darah. Tapi seberapalah kekuatan teh pekat hangat melawan malaikat?" kataku.

"Oooh,.. iyo. Iyo. " Uda Burin mengangguk-angguk, dan meneruskan kenangannya. "Den banyak membuat susah beliau dulu. Dinding surau, den coret-coret dengan arang. Burin = Era, itulah diantara tulisan den dulu, ha ha ha..." ia tertawa….

Era itu, anak tetangga sebelah, yang pulang dari Jakarta dengan bapaknya liburan. Diantara saudara mereka yang banyak, mungkin Era itulah yang paling jelita. Hingga Uda Burin termimpi-mimpi. Tapi bapak uni Era itu guru silat. Badannya kekar. Uda Burin masih kurus dan remaja tanggung. Ngeri. Lalu ketidakberdayaannya, dia lampiaskan dengan arang di seantero dinding samping surau. Tuk Lami geleng-geleng kepala,...

Burin kemudian memasukkan tangannya ke kantong, lalu mengeluarkan rokok. Mengambil mancis korek api dan mengeluarkan sebatang sigaret. Aroma sigaret itu manusuk hidung. Rada harum menyengat. Tapi bagi saya, phobia pada asapnya yang segera akan mengepul, membunuh, segera mengerinyitkan kening dan membuang muka.

"Ang indak merokok?" tanyanya.

"Tidak. Belum..."

"Pasti dilarang bapak dan gurumu kan?"

"Ho-oh. Tapi badan saya memang taksesuai dengan udut. Waktu menonton sandiwara di SD dulu, pernah coba gudanggaram sama Igul di tunggul pohon kelapa, belakang pentas. Besoknya saya demam batuk. Kata mantri bu Chadijah, paru-paru saya alergi.."

"O iyo. Igul. Dima beliau kini?"

"Ado. Di GUguk. Kami libur sekolah. "

"SMA Limbonang?"

"Indak. SMPP, Payakumbuah"

Diam sebentar. Burin mengembalikan rokok ke kotaknya dan menyimpan ke saku baju. Sepintas terlihat tato di dekat pangkal ibu jarinya. Gambar bunga mawar, merah-hitam.

'Tak usahlah merokok dekat anak-sekolah. " katanya sambil senyum. Kecut! Saya tau, dia sedang menahan candu....

"Dosa yang paling besar ke Tuk Lami adalah saat saya teriaki di sawah jalan ke Guguk. Dia kulihat berjalan dengan Tuk Awi Manso, membawa payung dikepit dan tas berisi buku mengaji. Memakai sweater warna abu-abu gelap. Berpeci hitam. Dengan gerakan kaki yang khas gaya beliau. Waktu itu aku mulai jarang ke surau. Sudah semakin nakal. Entah setan apa yang membisikkan aku, sambil mengangkat lukah belut yang jarang tertangkap isinya, kusoraki beliau; Woooi Tuk Lami, olah tih mancari pahalo juga, menantulah lagi yang akan dicari!!!"

Diam sebentar. Burin mengenang-ngenang.

"Tuk Lamimu itu langsung terhenti langkahnya. Dipandangnya saya berdiri di pematang dekat pinggir Batang Namang. Lama. Aku tertawa berasa menang. Tapi kulihat dia terus menatapku. Aku berusaha tertawa dan berjalan menjauh. Takut, jika nanti malam ia menyampaikan ucapanku ke bapak dan ibuku. Tapi nyatanya tidak. Dia mungkin menahan hatinya, sambil menunduk dengan mata berlinang. Lalu melanjutkan langkah kakinya menuju Guguk. Aku ini betul betul kurang ajar. Itulah baru aku melihat tuk Lami tergado-ok. Setelahnya, aku tak betah lagi di sini, dan pergi merantau..."

Pembaca, sungguh Tuk Lami tak pernah menyampaikan perangai Burin yang satu itu kepada kami. Dia kini mungkin tenang di syurgaNya.

"Onde iyo! lah 'maota korieng' saja kita dari tadi. Ada pisang kolieng Amah di belakang. Saya ambil dulu ya!"

"Ndak usah! Indak usah. Dek saya nan perlu itu merokok dan mengopi. Duit habisnya untuk rokok inilah. Kadang mengopi bisa tiga empat kali sehari. Sudah sampai disini saja, hati saya sudah terobati,.... indak usah repot-repot!"

"Sebenarnya, ada murid Atuk yang kata orang-orang disini mirip sekali pembawaannya dengan Atuk. Kalau dia memberi ceramah di masjid, atau menyampaikan khutbah, dia disebut orang "Ongku Lami Mudo".

"Ongku Lami Mudo? Siapa itu?"

"Satu-satunya murid Atuk yang tak melanjutkan sekolah di MAN atau IAIN. Ia memilih sekolah di pesantren Padang Panjang, lalu karena prestasinya bagus, terkirim ke Arab Saudi kuliah!"

"Ooooh, anak Sutan Mustaqim ya?"

"Bukan. Asal usulnya dari Sungai Rimbang, Yatim piatu, lalu dibesarkan Tuk Lami disini. Kini ia sudah bekeluarga dan tinggal di Lebuh Simpang. Sebagian orang menyebutnya Oji Mudo, karena ketika menuntut ilmu di Timur Tengah itu, ia sekalian menyempatkan diri ibadah haji!"

"Siapalah itu gerangan ya?"

"Namanya Syahriyal. Oji Mudo Syahriyal… Anak-anak juga senang jika ia memberi pelajaran di masjid. yang tua-tua juga sayang sama dia. Sekalipun kaji yang dia bawa kadang berbeda, ia tak berkeras bersiraruak, tapi mencari jalan keluar dengan berbagai hadis."

"Waang tau rumahnya? Betul Tuk Lami sayang dengan dia? Antarkan aku kesitu malah!" pinta Burin.

Saya mengangguk. Dan kami naik mobil veloz bagus menuju ke hilir Lebuh Simpang, sambil mendengarkan lagu-lagu koplo dari speaker mobilnya. Aroma asap rokok dalam mobil, tercium jelas. saya sebenarnya tak betah, tapi apa boleh buat. Hitung-hitung menolong Engku Muda Tuan Burin, he he.....

Tak ada yang istimewa dari bentuk rumah Oji Mudo Syahriyal. Bagai pondok lurus saja. Lalu teras atapnya disambung dengan pelataran tempat istrinya mendidik anak-anak sore hari, PAUD. Sekeliling rumahnya dipagari tumbuhan bercampur kembang. Kembang biasa, bunga lilin, bunga matahari, kembang goyang dan aggrek merpati. Lalu bayam, terung, kacang panjang serta beberapa batang pisang di belakang dan samping. Motor bebek mirip vespa parkir di halaman. Labu siam yang buahnya banyak lebat, menggantung di sudut belakang. Kolam berisi ikan lele, luas membentang. Itu saja.

Syukurnya, Oji Mudo sedang ada di rumah saat kami datang. Hingga Uda Burin bisa menyampaikan keluhkesah hatinya secara langsung........... Jangan-jangan dia akan dirukiyah!

Tapi tidak. Oji Mudo ternyata bukan tipe ustadz yang memilih rukiyah. Ia mendekat duduk ke Burin dan mencoba menautkan hati. Saya melihat dengan jelas perbedaan wajah kedua orang itu. Burin dan Oji Mudo. Tampan bak bintang filem dan biasa-biasa saja. Rambut menjuntai di kening dan rambut tersisir rapi ke samping. Mata yang tidak fokus dan mata berbinar yang penuh semangat. Aroma rokok campur parfum berbanding aroma sabun mandi biasa.

"Manusia itu memang tempat kesalahan, kekhilafan,..." ujar Oji Mudo sambil menempelkan telapak tangannya ke punggung tangan Burin. "Dan Yang Maha Pengasih itu, senang sekali jika kita kembali berbalik padaNya, setelah terlanjur banyak dosa!" sambungnya.

"Aku ini bukan lagi banyak dosa Oji. Aku ini syetan jahanam...!" ucapnya lirih. Suaranya parau. Oji Mudo melirik pada saya, dan saya mengerti sertamerta beranjak menunggu di luar, di bangku teras. Walau masih terbayang sekilas, tubuh Burin seperti terguncang-guncang dimasuki energi Oji MUdo....



Tiba-tiba telinga saya mendengar suara meraung, tapi kok tidak mirip Burin? Lalu parau marah," Oji Pantek! Lai tau ang indak akan manang

malaikat malawan iblis di dunia ko do!!!" Diam sebentar. Diikuti galosoh-posoh bunyi suara gelas air minum mineral melayang ke dinding. Tapi tak ada suara dari Oji Mudo. "Den bunuah ang Oji. Den bunuah ang kini juo!!!" Suara parau Burin, atau mungkin bukan Burin..carut marut keji yang tak usahlah dituliskan di sini., terdengar lagi. Saya segera hendak masuk kembali, mendengar ancaman itu. Tapi saya segera ingat, Oji Mudo adalah pemain silat handal ketika belajar di pesantren Padang Panjang. Teman-teman dia sesama santri pasti tau itu, apalagi ustad-ustadnya. Bukti nyata dari kepiawaian Oji Mudo adalah saat saku celananya diraba copet di terminal travel Ulak Karang, saat hendak berangkat ke Saudi. Dia berkelit memutar badan, dan copet itu terjilapak ke aspal. Kakinya dia simpai dengan telak. Yang tak terduga adalah, copet itu ternyata ada temannya. Lalu laga berubah menjadi dua lawan satu. Itupun tak berlangsung lama. Sebab Syahriyal, sudah mematri niat dalam dada, dia hendak ke Saudi menuntut ilmu di Madinah, tempat mana Rasul saw dulu mengajar membimbing umat. Mendekat ke Tuhan. Terus, akan dia biarkan dua cecunguk ini menghalanginya? La! No! Hasilnya adalah copet yang satu terlolong menjerit dan yang satunya lagi lari lintang pukang memegangi anunya yang entah masih normal atau sudah pecah! Untung ada segera apak berseragam menengahi. Dan Syahriyal segan dengan seragamnya itu.

Nasehat ustadnya di Padang Panjang, adalah jangan sombong dan jangan emosi. Itu sebabnya, Syahriyal cepat dingin. JIka tidak, tentu batang leher copet yang satu ini, dimakan tumitnya dari atas ke bawah, dan bisa diprediksi akibatnya; pingsan atau muntah-muntah...

Saya tak lagi mendengar lolongan burin. Sudah selesaikah ia di pegang Oji Mudo?

"Masuaklah Nafi" terdengar Oji memanggil kembali. Dan saya melangkah masuk. Astaga, gelas air mineral bertebaran, sedangkan Burin tertelentang mendengkur. Keletihan. Yang diluar dugaan saya adalah ingus jernihnya, meleleh lagi di kumis. Tidak, tak hanya ingus, saya juga mencium bau pesing dari celananya, bahkan bau feses. Ya Tuhan, dia BAB dan kencing di celana?

Oji Mudo keluar dari kamarnya membawa kain sarung bersih. Terlipat rapi. Juga sarung tangan yang segra dia pakai. Firasat saya jadi tak enak. Akankah kami melakukan pembersihan bagai memelihara bayi balita? Saya memilih mengambil kain sarung terlipat dari tangan Oji Mudo. Membukanya. Lalu melipatnya lagi. Supaya terlihat ada kerjaan, dan biarlah Oji Mudo yang membersihkan E-ek Burin. Kencingnya juga. Sementara dengkur Burin makin panjang dan lelap. Saya, maaf, belum pernah memelihara bayi. Jadi sungguh berat bagi saya, bagian kerja ini. Biarlah Oji sajaaaaa....

Jika ingin saya berdoa, di paragraf ini, maka doa saya adalah wahai Tuhan, anak-anak yang memelihara orang tuanya berbulan bahkan bertahun sampai meninggal, bagai merawat bayi dengan segala beban hidup yang dia tanggung, sungguh ya Allah, tak perlulah mereka Engkau hisab lagi di Padang Mahsyar, terbangkan sajalah mereka dengan kereta kencana, langsung ke haribaan syurgaMu, Jannatun Naiiiim....

Yang agak kurang masuk akal bagi saya adalah ketelatenan Oji Mudo mengaduk-aduk feses di dalam toiletnya , hingga ia menemukan sebuah logam metalik bulat sebesar peluru kacang-kacang sepeda. Dengan wajah senyum, ia bawa benda itu ke hadapan saya, sambil ngomong,"Alhamdulillah,...Nafi. Keluar!" Belum habis bingung saya , ia sudah menemukan lagi ikat pinggang tali benang di badan Burin yang simpulnya berupa kantong kain teramat kecil yang entah berisikan tulisan arab bermakna apa…. Dompet Burin pun diperiksa Oji Mudo, tapi tak ada ketemu apapun selain kartu-kartu dan duit. Oji Mudo mengumpulkan temuannya dan membuangnya ke tempat sampah, boleh jadi hendak dia bakar. Maaf, ilmu saya belum dan mungkin tak sampai kesana.

Setelah badan Burin dibersihkan, saya memasangkan kain sarung. Bismillah, semoga niat Uda BUrin terbebas dari perasaan antah-berantah, tidur tak nyenyak makan tak enak, otak pusing dada terbakar, hilanglah semuanya. Sehat! Sembuh!!!

Menunggu orang tidur keletihan mendengkur itu, bosan juga. Hingga akhirnya saya pamit saja sama Oji Mudo. Biarlah saya berjalan kaki saja arah ke mudiak. Sebab Engku Burin, entah kapan akan bangun. Kalaupun bangun, kan belum tentu juga bisa langsung pulang,...

Dugaan saya betul. Kabarnya Uda Burin ditahan Oji Mudo untuk tinggal dulu di rumahnya, di kamar samping. Makan tidur shalat mengaji, semua ia ikut Oji Mudo. Bahkan ia mengekor saja sama Oji Mudo jika pergi mencari siput dan Alo-alo ke sawah. Dia kembali belajar melatih keseimbangan otaknya berjalan di pematang sempit. Sebab kabarnya, ini kata orang-orang, ia sempat minta dibelikan sabu-sabu ketika terbangun dari tidur ngoroknya, dan dimandikan oleh Oji Mudo dengan menyiram kepalanya dengan air dingin sambil membaca Al-Fatiha.

Berhari, berminggu, bahkan sudah sebulan ia magang dengan Oji Mudo. Wajahnya mulai terlihat segar. Shalatnya khusuk, dan mengajinya kembali terdengar sendu. Sepertinya ia benar-benar ingin 'hijrah'....

Tuhan pun tak mengelakkan kedatangan hambaNya, sehitam apapun ia tersesat. Buktinya, ketika Oji Mudo memberi tausiah pengajian di masjid, yang dihadiri orang-orang tua, bapak-ibu, Burinpun duduk di samping dengan menunduk. Dan tak dinyana, Oncu Timah Bendang, mendatanginya, selesai pengajian. Oncu Timah, adalah ibu Silva, istri Burin dulu. Di kampung, kabar kepulangan Burin, dan magangnya dengan Oji Mudo sudah tersebar luas. Oncu Timah, merunduk memakai mukena, dan menyapa,"Nak Burin, baa koba ang nak?" katanya tulus. Demi memandang wajah Oncu Timah, di dalam masjid, di depan orang banyak, BUrin terarau. Ia menyambut tangan Oncu Timah dengan menggigil, dan menjatuhkan wajahnya ke kaki Tek Timah. "Ayeeeiiii, ampuni den diiiiih" ratapnya. Oncu Timah memeluk kepala Burin dengan tangannya yang keriput, dan sesudah itu , kita, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi...

Oh iya, Burin memberi tak kurang sepuluh juta ke Oji Mudo, sebagai terimakasih, tapi ditolak Oji. Ia berikan ke panti asuhan Yatim piatu Muhammadyah, Kubangtungkek.

Banyak maaf, tama

Business

 









Sabtu, 09 Mei 2020

Sansai oleh Adri Sandra

Tanjung pura



SaNSAI 

Sapantun alang tabang tinggi
Malayok ka gunuang Sago
Hinggok di dahan batang dadok
Duri di kaki maincek lanak
Lah batahun musim baganti
Iduik nan indak barubah juo
Indak mangakeh indak mancatok
Sarupo ayam lapeh di parak

Ka bukik batanam sukun
Dulunyo samak sarang ula
Kini rimbo dek banalu
Hanyo sakali limo tahun
Baju di badan lai batuka
Diagiah urang jalang Pemilu

Ula banamo ula cindai
Jalan malato ka batu camin
Manuju tajun aia sarasah
Baju bagambar urang pandai
Nan ka duduak jadi pamimpin
Harok nagari ka barubah

Bak cando tabang buruang bondo
Tabang malinteh awan sabarih
Turun ka sawah tanaman padi
Tapi ditipak diri ambo ko
Iduik bak cando sampan tirih
Badayuang angok manjalang mati

Dangau Tingga, 2020)

Kamis, 23 April 2020

TOBEK GHUAHBAGHANGAN




SEKEDAR MENGISI WAKTU
"Ghi ba'a bisuak tempo kan?" tanyo Jisidi ka Yakma'ah sudah makan malam. "Iyo. Kalender merah" jawek Idar, anak eah, sambie melingkuk-an siso tulang sudah makan daghi pinggan ka wadah makanan kucieng. Makan malam di palantea, basamo-samo, ditoghangi lampu cimporong.
"Dikoghingi lah tobek bawah longgea pek Baghuah Baghangan. Lah godang-godang kan-tawi jo kan-taweh mpak dek den belok lalu!"
"Jadih mlah. Dibao ka kan-komih. Lai pangkugonok gak nyereah!" manjowob YakMa'ah, sambie mancaghi-caghi kampie tompek sighieh jo pinang, saroto sodah, bawah lamaghi makan, ampieng lutuk suok.
"Yo ancak pulo reah. Sambie maisi kotu tempo nak-ughang keah. Dibao nasi jo samba, gulai gak sangenek. " tambah Misur, laki Idar. Mandongea rencana apak, ibu jo uwo ajak itu, lah kombang ghabu paja nan batigo; Buyuang Godang, Buyuang Tongah jo Supiek Erma. Tabayang, bisuak pagi manangkok ikan, banyak bona, dalam tobek godang, .....
Matoaghi mulai tinggih. Jisidi jo kaluarga eah lah baighieng-ighieng madok ilie. ka tobek baghuah-baghangan. Indak lamo, lah tibo pek pamatang, sasudah manughun tobieng, malinteh jalan tunggua kaghambie. Langsuang dimasuak-i tobek bolah pamatang bawah, dicaghi pambuluah tunggang, diegang pokok- eah. Byuuurrr!!! mamancea aie ka sawah bolah bawah. Pas satontang pangka pambuluah tunggang, lah baputea-putea aie, cucuk-kolieng!
Ndak lamo, lah susuk aie. Lah nampak pungguang ikan. manggalitea-galitea ateh lunau. Ikan tawi, ikan omeh, ikan paweh bahkan ikan pantau. banyak!
Jisidi jo YakMa'ah mangumpua-an ikan sado nan dapek tatangkok. Idar jo Misur bitu pulo. Buyuang Godang Jo Buyuang tongah, lai soto tapi kadang sambie main-main. Salieng mamanggak-an ikan nan dapek. "Ha, godang eah lai!" "Tengok niak. Panjang!"
Tagieh mamogangan ikua ikan, sudah tu ba tengok-an ka Supiek nan togak ateh pamatang. Supiek lun bulieh masuak tobek lai. Takuk kok takubua kaki paja ,dalam lunau, nambah kojo ajo!
Buyuang Tongah, kan sangajo malotak-an ikan nan dapek pek ampieng kaki Supiek. Lah mancangkuang pulo supiek ma-awai-awai ikan. Tambah lamo, tambah datang somuk api. A lah tapokiek Supiek, jaghi kaki eah digigik somuk sighah.
"Masuak pulo lah den dih Bu!" Supiek maghegek.
"Jan lai! Dalam. Tabonam kau biko!"
"Pek topi inyak ajo. Lai dangkek. Nyokau ikan pantau..." pintak Supiek. Dek ibunyo indak manjawek, nyo lah ngalucuh ka dalam. sambie mamogangan sayak. Managkok ikan pantau, ciek....duo......tigo! Sonang bona ati Supiek.
Weh, tu ikan paweh tu ha! Ateh lunau! Supiek bajalan agak ka tongah. Jo lambek-lambek, di cokau-eah ikan paweh cako. Snap! Dapek!! Tapi lincie! Paweh manggaletek laghi! Ikua ikan reah maompeh-ompeh ka lunau. dan, pcrrk....oman muko Supiek, ponuah dek titiek-titiek kalabu, lunau tobek!
Copek Supiek manggesek jo longan eah. tapi malang, lunau pek pipih, makin diapuh, makin marato ken-kaniak! Bahkan bintiak aluh kosiek lunau, masuak ka mato....
"Ngeaaakkkk!!!" managih kasudahannyo Supiek. Mato eah podieh. Lah takojuk Misur jo Idar. Buyuang Godang jo Buyuang Tongah malengong pulo ka adiek eah. Ba'a jak eah?
"Mato kalimponan lunauuuuuu,..uuu...uuu" manangih Supiek. Idar copek mambasuah tangan. Di dukuang paja ka pamatang. Di lap mato jo muko nan balunau. Diombuh. Wuuuh!!! Sakali. Ombuh baliek. Wuuuuhh.... Duo kali. "Olah ondo?"
Supiek mangijok-ngijok-an mato.
"Olaaah..." nyinyo, sambie mambuduk.
"Kan cako den kecek-an lai, tapi tanggege!"
Buyuang Tongah mamandangi ajo , adiek eah ditolong ibu eah. Pek ateh pamatang. Eh, tengok eten! Arah ka tobieng ilie longgea, ado pulasan babuah! Sighau!! Lobek!! Ghondah-ghondah!!
Buyuang Tongah langsung kaluea daghi tobek. Naiek ka pamatang. Basuah tangan stek. Ntu ilang, arah ka bawah batang pulasan lobek! Sssssttttt.

Nan puasa

*Ulang kaji Bab Puasa, tidak lama lagi Ramadhan:*

*Syarat Wajib Puasa* :-
 
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Sihat
5. Bermukim (Tidak Musafir)
6. Suci (Dari Haid Dan Nifas)

*Syarat Sah Puasa* :-

1. Islam
2. Berakal & Mumayyiz
3. Suci (Dari Haid Dan Nifas)
4. Nyata masuknya bulan Ramadhan

*Rukun-Rukun Puasa*:-

1. Orang Yang Puasa
2. Berniat
3. Menahan Diri Daripada Perkara Yang Membatalkan Puasa

*Perkara Yang Membatalkan Puasa* :-

1. Makan Dan Minum Dengan Sengaja
2. Memasukkan Dengan Sengaja Benda Ke Dalam Rongga Yang Terbuka. *Seperti* (lubang 👃, 👂🏻👄 2 lubang kemaluan) 
3. Muntah Dengan Sengaja. 
4. Keluar Haid & Nifas
5. Gila
6. Murtad
7. Keluar Mani Dengan Sengaja
8. Bersetubuh Di Siang Hari

*Perkara Sunat Ketika Puasa* :-

1. Segera Berbuka Puasa
2. Berbuka Dengan Kurma/Juadah Manis
3. Baca Doa
4. Melambatkan Bersahur
5. Banyakkan Baca Al-Quran, Berzikir, Berselawat Dan Membuat Amal Kebajikan
6. Sentiasa Bersedekah
7. Jauhkan Diri Daripada Bercakap Perkara Yang Sia-Sia Dan Perbuatan Yang Tidak Membawa Manfaat
8. Mandi Junub Lebih awal Sebelum Masuk Waktu Subuh

*Makruh Ketika Puasa* :- 

1. Bersuntik
2. Berbekam
3. Berkumur-Kumur
4. Memasukkan Air Ke Dalam Rongga Hidung Secara Berlebihan
5. Mandi Yang Berlebihan
6. Rasa Makanan Di Hujung Lidah

*5 HAL YG MENGHILANGKAN PAHALA PUASA*

1. Berdusta
2. Ghibah
3. Ado Domba
4. Sumpah palsu
5. Memandang seseorang dgn nafsu sahwat
6. mengeluarkan kata kata keji, cacian maki

*Golongan Yang Wajib Qada' Puasa* :-

1. Orang Sakit Yang Ada Harapan Untuk Sembuh
2. Orang Yang Musafir (Bukan Kerana Maksiat)
3. Orang Yang Kedatangan Haid Dan Nifas
4. Orang Yang Meninggalkan Niat Puasa
5. Orang Yang Sengaja Melakukan Perkara2 Yang Membatalkan Puasa
6. Orang Yang Pitam/Mabuk 
7. Orang Yang Sangat Lapar Dan Dahaga

*Mereka Yang Di Kenakan Membayar Fidyah Puasa*:-

1. Mereka Yang Tidak Dapat Mngqada'kan Puasa Sehingga Masuk Ramadhan Kali Kedua - (Fidyahnya : 1 Cupak Beras Untuk Setiap Hari Yang Di Tinggalkan Di Samping Mengqada' Puasa) Bagi Setahun Tertinggal..
Kalau Tidak Di Qada' Sehingga Melampaui 2 Tahun Maka Di Kenakan 2 Cupak Tetapi Puasa Tetap Juga 1 Hari (Tiada Tambahan)

2. Orang Sakit Yang Tidak Ada Harapan Untuk Sembuh

3. Orang Yang Terlalu Tua Dan Tidak Berdaya Untuk Berpuasa

4. Orang Yang Ada Qada' Puasa Tetapi Meninggal Dunia Sebelum Sempat Berbuat Demikian (Fidyahnya : Di Buat Oleh Kerabat Si Mati/Di Ambil Daripada Harta Pusakanya)

5. Perempuan Yang Mengandung/Yang Menyusukan Anaknya Perlu Mengqada' Puasa Dan Membayar Fidyah 1 Cupak Beras Bagi Setiap Hari Yang Di Tinggalkan Sekiranya Dia Meninggalkan Puasa Kerana Bimbangkan Anaknya Tetapi Sekiranya Dia Takut Memudaratkan Pada Dirinya Dia Hanya Wajib Mengqada' Puasanya

*Kifarat Bersetubuh Di Bulan Ramadhan* :-

Orang Yang Bersetubuh Pada Siang Hari Bulan Ramadhan, Maka Kedua2 Suami Isteri Tersebut Perlu Mengqada' Puasa Berkenaan Dan Suami Wajib Membayar Kifarat (Denda) Seperti :-

1. Memerdekakan Seorang Hamba Mukmin L/P
(Sekiranya Tidak Mampu)

2. Berpuasa 2 Bulan Berturut-Turut Tanpa Terputus (Kalau Tidak Berdaya)

3. Memberi Makan Kepada 60 Orang Fakir Miskin
Walau Bagaimana Pun, Jika Persetubuhan Itu Di Lakukan Kerana Terlupa, Jahil Tentang Haramnya/Di Paksa Ke Atasnya Tidaklah Wajib Kifarat

*Tingkatan Puasa*:-

1. Puasa Umum - Sekadar Menahan Makan, Minum Dan Keinginan Berjimak

2. Puasa Khusus - Memelihara Mata, Telinga, Lidah, Tangan Dan Kaki Daripada Melakukan Dosa Selain Menahan Diri Daripada Perkara Di Atas

3. Puasa Khusus Al-Khusus - Merangkumi puasa Di Atas Dan Di Sempurnakan Pula Dengan Puasa Hati Daripada Semua Keinginan Zahir Dan Batin

*Mereka Yang Di Benarkan Meninggalkan Puasa* :-

1. Orang Yang Hilang Daya Upaya Seperti Sakit Yang Apabila Berpuasa Akan Menambahkan Keuzuran

2. Orang Musafir

3. Org Yang Terlalu Tua Dan Amat Lemah

4. Orang Yang Tersangat Lapar Dan Dahaga

5. Perempuan Hamil/Menyusukan Anaknya Yang Apabila Berpuasa Boleh Memudaratkan Diri/Anak Yang Di Susui Itu

# Selamat Menjalani Ibadah Puasa Kepada Umat Islam Mukminin Dan Mukminat..
Semoga Puasa Pada Tahun Ini Memberi Manfaat Kepada Kita..
Semoga Puasa Pada Tahun Ini Lebih Mudah Daripada Tahun Sebelumnya Dan Membanyakkan Kita Membuat Amal Ja'riah..
In Shaa ALLAH.
🤲🤲🤲